Piknik kali ini Travelista mengunjungi rumah Djiauw Kie Siong seorang saudagar
Tionghoa kelahiran Rengasdengklok yang dijadikan tempat pengasingan Bung Karno
dan Bung Hatta yang
teletak di jalan Perintis Kemerdekaan 33 Karawang.

Jakarta tanggal 15 Agustus 1945 siang
hari, para pemuda mengadakan pertemuan di Jalan Cikini 71 dengan keputusan agar
proklamasi kemerdekaan segera dilakukan tanpa menunggu janji dari jepang.
Sekitar pukul 21.30 malam hari, para pemuda mendatangi rumah Bung Karno di
Pegangsaan Timur 56 Jakarta setelah mendengar berita kekalahan Jepang dalam
perang Pasifik.
Para pemuda mengancam Bung Karno untuk
memproklamasikan kemerdekaan “malam ini juga atau paling lambat besok tanggal
16 Agustus 1945” sambil menimang - nimang senjata. Namun para pemuda gagal
memaksa Bung Karno karena merasa bertanggung jawab sebagai ketua PPKI. Karena
menurutnya memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia harus dibicarakan
terlebih dahulu dengan seluruh anggota PPKI agar tidak menyimpang dari
ketentuan.
Namun para pemuda tetap meninginkan
proklamasi kemerdekaan dilaksanakan dengan kekuatan bangsa sendiri bukan oleh
PPKI bentukan jepang. Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta pun dilakukan para pemuda
agar Bung Karno dan Bung Hatta terhindar dari pengaruh jepang dan bersedia
memproklamasikan kemerdekaan.
Penculikan dipimpin oleh Shodanco
Singgih yang meminta Bung Hatta terlebih dahulu untuk ikut ke luar kota
kemudian meminta Bung Karno hal yang sama namun Bung Karno meminta Fatmawati
dan Guntur Soekarno yang masih berusia 9 bulan ikut serta.
Tanggal 16 Agustus 1945
sekitar pukul 04.00 pagi dari Jakarta rombongan menuju ke arah timur tanpa
memberitahu nama daerah yang dituju dan kemudian diketahui sebagai kawedanan
Rengasdengklok dengan pertimbangan sebagai daerah terpencil relatif lebih aman.
Setibanya di Rengasdengklok, rombongan
ditempatkan di sebuah gubuk bantaran sungai Citarum yang dinilai kurang layak.
Namun atas usulan KH. Darip seorang pejuang dari Klender agar rombongan ditempatkan
di tempat yang lebih layak. Maka dipilihlah rumah Djiauw Kie Siong yang dinilai
lebih layak dan dapat menampung banyak orang.
Jakarta dalam keadaan tegang
karena pada 16 Agustus 1945 seharusnya diadakan pertemuan PPKI. Namun Bung
Karno dan Bung Hatta tidak ada di Jakarta. Sehingga Achmad Subarjo segera
mencari kedua tokoh tersebut yang kemudian diketahui berada di Rengasdengklok.
Achmad Soebardjo pun ke
Rengasdengklok untuk menjemput Bung Karno, Bung Hatta, Fatmawati dan Guntur
Soekarno. Achmad Subarjo menjamin jika Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke
Jakarta, proklamasi kemerdekaan akan terlaksana. Dengan jaminan dan kesepakatan
itulah pemuda mengizinkan Achmad Subarjo membawa pulang Bung Karno dan Bung
Hatta ke Jakarta.
Sebenarnya lokasi asli rumah
Djiauw Kie Siong terletak di bantaran sungai Citarum. Namun karena abrasi, maka
pada tahun 1957 rumah berbahan kayu jati dengan teknik bongkar pasang dipindahkan
ke tempat yang saat ini Sobat Piknik dapat kunjungi.


Memasuki ruangan rumah
berdinding kayu dengan lantai ubin tegel. Sobat Piknik dapat langsung melihat
foto Djiauw Kie Siong di meja altar bersebelahan dengan foto Bung Karno dan
Bung Hatta serta beberapa foto bersejarah lainnya.

Di sebelah kanan meja altar
merupakan kamar Bung Karno dan di sebelah kiri meja altar merupakan kamar Bung
Hatta dengan furnitur asli sejak pertama rumah dibangun. Pada tahun 1961 meja
segi empat dan bangku yang digunakan untuk berunding pada peristiwa
Rengasdengklok dipindahkan ke museum Mandala Wangsit Siliwangi di Kota Bandung.


Sebelum wafat, Djiauw Kie
Siong berwasiat kepada keturunan yang menempati rumah bersejarah harus
bersabar, tidak boleh minta sesuatu kepada pihak mana pun dan harus rela
menunggui rumah demi memberi pelayanan terbaik kepada para tamu yang ingin
mengetahui sejarah perjuangan bangsa. #SALUT!!!
Maka tidak heran walau rumah
Djiauw Kie Siong sudah berstatus sebagai cagar budaya namun masih dikelola
secara mandiri oleh keturunan yang tinggal di bagian belakang rumah. Djiauw Kie
Siong wafat tahun 1964 abunya disemayamkan pemakaman pribadi yang terletak sekitar
200 meter di belakang rumah.

![]() |
Foto by : Situs Kawi Boedi Setio |
Dari Djiauw Kie Siong
perjalanan Travelista teruskan ke monumen Kebulatan Tekad yang menjadi markas
PETA kala itu yang diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1950. Setiap bentuk
monumen dan pahatan relief memiliki filosofi yang menggambarkan keteguhan para
pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan.


Hari semakin sore, Akhir
perjalanan Travelista tutup dengan mencicipi Sorabi Hijau Rengasdengklok HM
Kasim yang beralamat di jalan Kalijaya. Sorabi panas berlumur gula pandan atau
gula durian yang dimasak dengan kayu bakar menutup Piknik kali ini.


Selesai sudah piknik kali ini. Sampai
jumpa di piknik selanjutnya...
Pesan
moral :
Dari rumah Djiauw Kie Siong Travelista
tersadar bahwa semangat pemuda dapat mengubah sejarah bangsa dengan percepatan
kemerdekaan tanpa campur tangan penjajah. #HIDUPPEMUDA!!!
Komentar
Posting Komentar